Minggu-minggu ini mungkin siswa dan orang tua dalam kondisi yang was-was, khawatir dan tidak karuan.
Pasalnya April dan Mei merupakan bulan dimana para siswa tingkat akhir disetiap tingkatan Dasar hingga Atas menghadapi Ujian Nasional.
Ditambah orang tua dan sis
wa dihadapi kenyataan bahwa biaya pendidikan ternyata tinggi, ataupun terkejut akan hasil anaknya tidak lolos atau mendapatkan hasil yang buruk dalam ujian nasional.
Problematika ujian nasional 2014 kini semakin bertambah dimana isu politik menjamah kawasan pendidikan yang harusnya bebas dari isu politik, banyak muatan-muatan politik masuk dan menjamah kawasan pemilih muda, yaitu siswa.
Kontroversi penerimaan siswa yang seata-mata disdasarkan atas nilai ujian, banyak disesalkan sekarang. Kontroversi UN sudah berlangsung lama dan dipandang sebagai hal yang efektif untuk meningkatkan kualitas dan merekrut anak didik baru, tapi inilah Indonesia.
Memang tidak seluruhnya pelaksanaan UN kacau atau amburadul, masih banyak pelaksanaan UN yang berlangsung fair, meski isu kebocoran jawaban memang sudah tidak asing lagi bagi kita.
Parahnya rumor isu politik, kebocoran soal sendiri berasal dari lembaga Pendidikan itu sendiri, tidak hanya kalangan atas yang bermain, namun kalangan bawah pun ikut-ikutan dalam rumor ini. Mereka berdalih dengan melakukan ini mampu mendongkrak nilai anak-anak yang tujuan akhirnya adalah mendorngkrak lembaga itu sendiri.
Cara-cara ini tentu saja tidak fair, dimana anak yang brandal, anak yang sering bolos, tidak pintar akan mendapat nilai tinggi, penerimaan siswa baru yang didasarkan kepada nilai dan uang semata akan membuat orang yang pintar.
Belajar bertahun-tahun dihadapkan dengan probelmatika kunci jawaban akhirnya menjerumuskan, dan kasihan bagi anak-anak yang pintar dan tidak memeliki uang berlebih, akhirnya tidak memiliki kesempatan tersbut.
Pemerintah, khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan harusah tahu dan lebih memahami fenomena ini. Harusnya pemerintah harus langsung turun tangan ke bawah, bertanya kepada masyarakat kepada orang tua siswa, kepada siswa.
Cari solusi yang lebih baik, tidak mengandalkan ketegangan psikologi semata yang dimana belajar bertahun-tahun ditentukan dengan hasil ujian beberapa hari. Tanya kepada orang tua tentang keefektivitas ujian tersebut, untuk selebiihnya menjadi bahan evalusai dan Pemerintah harus mengambil langkah tegas tentang ketidakadilan dalam perihal ini.
Catatan kecl ini sengaja kita ulangi, bukan mencari kesalahan beberapa pihak, namun sebagai bahan rengungan, bagimana tercapainya rasa keadilan dalam penidikan, mumpung minggu-minggu ini siswa dan orang tua masih dipusingkan dengna masalah ini.
Yang terpenting adalah apa jawaban dari problematika pendidikan kita adalag menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas bukan dari berapa nilai siswa-siwa kita dapat, namun pelajaran moral yang menjadi sasaran penddikan berkualitas kita, karena moral dari pendidikan kita masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan, paling dasar adalah pendidikan masalah kejujuran, kemudian kreativitas yang mengembangkan daya nalar peserta didik.
Dengan hanya pengembangan kejujuran dan naral kita mampu membentuk manusia unggul, mandiri dan siap bersaing. Karena kita semua ingin negara kita maju dan siap bersaing di era modern kini. Dengan begitu, memberikan perhatian kepada pendidikan mampu memberikan solusi lain kepada problematika di Indonesia lainnya.
Oleh : Reinaldy F