Indonesia akan memiliki pemimpin baru, 9 Juli mendatang Indonesia akan memilih untuk menentukan Presidennya.
Ada dua calon yang sajikan pada pemilu tahun 2014 ini, nomr urut 1 yaitu Prabowo dan Hatta sedangkan no urut 2 yaitu Jokowi dan Jusuf Kalla.
Dimana kedua pasangan berpengalaman, entah di Militer atau perpolitikan Indonesia.
Siapapun yang terpilih nampaknya memiliki tantangan yang besar bagi dirinya menjadi seorang Presiden, pasalnya masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan oleh presiden-presiden sebelumnya.
Tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh presiden terpilih nantinya adalah, Presiden harus menjaga kosnsitensi ekonomi yang harus berada di angka 5-6 persen, karena Indonesia sudah menjadi bagian dari emerging ekonom. Dari kesejahteraan rakyat, harus terus meningkat yang bisa diukur dari human development.
Dari segi hukum harus ditegakan dan pembarantasan korupsi harus tetap digalakan, politik harus semakin stabil matang dan berkualitas.
Dari segi pertahanan jumlah personil TNI dan Plri harus bertambah, sehingga rasio masyarakat dan aparat bisa sebanding yaitu 1:400. Begitu pula dengan hubungan luar negeri, era globalisasi berkembang harus dimafaatkan dan dijadikan peluang.
Lalu infrastruktur terutama ketersediaan listrik masih harus ditambah, kerna permintaan terus semakin bertambah. Berbagai kebijakan ekonomi harus dipertimbangkan dan berdasarkan kondisi global, pengelolaan fiskal harus dilaksanakan dengan baik.
Lemiskinan harus diturunkan lahi, konflik komunal yang sesekali masih terjadi harus dicegah, demokrasi harus ditegakan.
Missal jumlah kemiskinan Indonesia kini bertambah menurt Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir dari media onlinenya mencatat angka kemiskinan pada September 2013 meningkat sebesar 292.951 orang atau 7,6 persen dibandingkan Maret 2013 yang mengalami peningkatan sebesar 4,66 persen.
Dari segi ekonomi sendiri Indonesia membaik, dimana sebagai infomasi, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja melansir perdagangan RI pada Maret 2014 kembali mencetak surplus sebesar 673,2 juta dollar AS, setelah pada Februari 2014 lalu mencatat surplus sebesar 843,4 juta dollar AS. Dimana menandakan perbaikan ekonomi Indonesai memebaik.
Fakta lain mengatakan, Jumlah yang ada saat ini, sama sekali belum mencukupi jika dibandingkan luas wilayah teritorial yang harus diamankan.
Jumlah ideal personel TNI untuk mengamankan seluruh wilayah teritorial Indonesia minimal 0,4 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 800.000 personil. Sekarang, tercatat hanya 361.823 personil.
Indonesia yang sedang mengalami transisi ke arah demokrasi membutuhkan tentara yang kuat, loyal, sehingga Indonesia tidak dilecehkan oleh negara lain. Oleh karena itu, TNI harus melakukan program pengembangan kekuatan TNI hingga 2024.
Sama seperti TNI, jumlah polisi Indonesia pun masih sangat kurang. Jumlah anggota Polri di seluruh Indonesia saat ini tercatat 363.000 orang.
Ketimpangan rasio jumlah polisi di Indonesia dengan jumlah penduduk total yaitu 1:1500 atau lebih kecil lagi. Artinya satu polisi mengawasi 1500 orang di negeri ini, padahal standar PBB menyebutkan standar ideal itu adalah 1:400 atau 1:300.
Banyak fakta yang menunjukan bahwa masih banyka tugas yang harus deikerjakan bagi presiden terpilih nantinya. Bukan menjadi hambatan bagi para presiden terpilih nantinya, namun harus berfikir dari saat ini, mampukah kalian menyammbut tugas yang begitu banyaknya.
Tidak hanya presiden saja yang harus berfikir sejak awal, namun masyarakat juga harus berfikir, siapakah sosok yang mampu mengurusi masalah yang begitu banyak, jangan asal pilih, jangan karena citra bagus, menjadikan dasar kita memilih mereka, karean nasib Indonesia ada ditangan kita sendiri.
Oleh : Reynaldi Febriansyah